Genre : romance
Cast :
agnes mo as
her self -Min-Ho
as Adik Agnes
Choi siwon as
him self -Choi
Seung hyun (Top) as ex agnesLauren Choi as anak siwon -Tiffany as agnes Friend
And other cast find
by your self
HAPPY READING.........................
Part 10
Tiga kali olesan
terakhir maskara pada bulu mataku, maka aku sudah selesai seratus persen. Tidak
bisa menahan lengkungan bibirku membentuk sebuah senyuman saat melihat pantulan
diriku di cermin.
Rambut panjang
coklatku di keritingin. Dress pesta berwarna biru tua sebatas dengkul, bagian
lengan hingga menyentuh siku tanganku dan ada pita besar senada dengan warna
dress di belakang pinggangku. Tidak ada bagian tubuhku kecuali kakiku, yang terekspos.
Tidak seperti gaun yang pernah aku pakai di acara pesta pernikahan Tiffany.
Lagipula, aku memang tidak berniat memakai pakaian terbuka ketika pergi bersama
Siwon, kecuali jika dia yang meminta. Dia akan terus mengocehi bajuku
disepanjang jalan, membuatku bosan. Cukup sekali.
Lima belas menit
lagi dia akan tiba dirumahku, menjemputku. Apa yang akan terjadi seandainya eoma
dan appanya atau Minho yang membukakan pintu untuknya? Tiba-tiba saja aku
berhenti bernafas. Mengipas-ngipas wajahku menggunakan kedua tanganku ketika merasakan
keringat akan melunturkan rias make-up diwajahku, walaupun Siwon pernah
mengatakan: aku tetap cantik jika tidak memakai make-up. Tapi, Aku tidak ingin
memalukannya dipesta teman eomanya. Disana akan banyak wanita cantik.
"Sayang,"
ketukkan pintu diikuti suara lembut milik eoma. Pintu kamarku terbuka,
sebelumnya aku menyuruh eoma membuka pintu kamarku yang tidak terkunci. Eoma
duduk diatas ranjangku, disampingku,
"Kau sangat
cantik, anakku," kerutan terlihat disekitar mata eoma ketika sedang
tersenyum. Aku mengcopy wajah eoma. Sedangkan Minho mengcopy wajah appa.
"Secantik Eoma,"
kami tertawa bersamaan karna perkataanku.
"Hm,"
ibu tampak ragu, tetapi ia melanjutkan, "Kenapa TOP tidak pernah datang
lagi kesini? Kau pergi bersamanya 'kan?" Aku diam beberapa saat. Bibir eoma
berkerut menunggu jawabanku. Eoma menyukai TOP karna dia sopan dan penuh
perhatian pada appa dan eoma.
Aku tidak
menceritakannya, aku takut eoma sedih dan kecewa padaku. Eoma sudah menganggap TOP
sebagai anaknya. Ibu sangat bahagia saat aku memberitahunya, TOP berencana akan
melamarku. Bahkan eoma sudah mengasih banyak saran pada acara pertunanganku
dengan TOP.
"Maaf, mom...
Aku dan TOP sudah berakhir," kataku, pelan. Semburat kebingungan tergambar
diwajah eoma, "Apa yang terjadi?" eoma terlihat murung. Aku jadi
merasa bersalah. Aku gelisah memikirkan jawaban. Tidak mungkin aku menceritakan
sebenarnya. eoma dekat juga pada Tiffany.
"Setelah dua tahun
berpacaran, kami baru menyadari beberapa hal: kami memiliki banyak perbedaan.
Kami sudah tidak cocok satu sama lain. Perasaan kami tidak seperti dulu,"
jeda sebentar memastikan ibu tidak kena serangan jantung. Setelah memastikan eoma
masih baik-baik saja, aku melanjutkan.
"kami memilih
berpisah sebelum cincin tersemat dijari kami (menyesal dibelakangan). Dia sudah
bahagia pada pilihanya, eoma," aku tersenyum tipis. eoma membelai punggung
tanganku dan tersenyum lebar,
"Dulu waktu eoma
dan appamu masih berpacaran, kami sering bertengkar karna perbedaan pendapat. Seringkali
kami berakhir namun kembali lagi. Setelah menikahpun, ayah dan ibu sering
bertengkar karna perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat selalu hadir
ditengah-tengah suatu hubungan, entah itu antara teman maupun kekasih. Tapi,
jika memang sudah tidak cocok dan perasaan satu sama lain sudah hilang, tidak
perlu dipertahankan lagi. Itu akan berakibat saling menyakiti. Jadi, kau tidak
apa-apa?" eoma memang tempat curhat yang paling menyenangkan. Tak jarang
aku sering curhat pada Eoma.
"Sebelumnya
tidak baik-baik saja. Tapi, sekarang sudah membaik," aku tersenyum lega
agar meyakinkan Eoma.
"Itu karna
kau sudah punya teman kencan?" tanya eoma menggoda. Pipiku merona.
"Tidak
juga." Dahi eoma berkerut.
"Lalu, kau
akan pergi dengan siapa?" suara eoma penuh kebingungan.
"Seorang pria
yang dekat denganku. Tapi, dia belum mengajakku kencan," aku tidak sabar
berkencan dengannya saat mengingat janjinya: akan mengajakku kencan dalam waktu
dekat. Mulut eoma terbuka ingin berbicara, namun tertutup kembali karna suara kelakson.
Mungkin itu Siwon. Aku menggandeng tangan ibu.
"Ayo, eoma.
Temui temanku." Kami menuruni anak tangga. Kamarku dilantai dua. Di
sampingnya, kamar Minho.
"Minho
kemana, Eoma?"
"Kerja
kelompok dirumah temannya," aku mengangguk. Membuka pintu, mataku langsung
disunguhi pria tampan dan berbadan tegak yang dibalut dengan kemeja coklat,
rompi dan jas dan celana bahannya yang berwarna sedana dengan kemejanya.
Sepatunya hitam mengkilat. Rambutnya diberi jel, sehingga poninya tersisir kesamping.
Sangat terlihat seperti pria milyader.
"Hai. Berikan
aku waktu untuk memperkenalkan kalian. Ini eomaku, siwon. Eoma, ini Siwon,"
aku memperkenalkan mereka. Siwon mengambil tangan eoma, sedikit membungkuk lalu
mencium punggung tangan eomaku.
"Perkenalkan,
saya Siwon, eoma," katanya lembut, tersenyum. Ya, Tuhan. Dia memanggil
eomaku dengan 'eoma'? eoma merasa tersentuh atas perbuatan Siwon.
"Ya. Aku Jenny,
ibu Agnes."
"Terimakasih,
eoma, sudah melahirkan Agnes sebagai yeoja yang cantik. Kecantikkan kalian
sangat mirip."
"Gombal,"
timpalku. Kami bertiga tertawa didepan pintu.
"Appamu dulu
tukang gombal juga," kami menjadi terbahak-bahak. Aku memeluk ibu kemudian
tangan Siwon.
"Kami harus
pergi, mom. Nanti, telat."
"Ya,
pergilah. Hati-hati dijalan."
"Senang
berkenalan dengan Anda. Dan mengizinkan saya membawa putri Anda keluar,"
kata Siwon sopan dan penuh kelembutan disetiap katanya pada eoma. Eoma
tersenyum seolah itu bukan sesuatu yang tidak wajar.
"Tidak masalah
selama kau menjaga putriku dengan baik."
"Saya
pastikan," ujarnya dengan sungguh-sungguh. Sebelum pergi, aku mencium pipi
eoma.
"Bye,
mom," Eoma membalas. Lalu, Siwon mengucapkan selamat tinggal pada ibu.
Siwon membuka
pintu mobilnya untukku, dia adalah pria jantan. Siwon masuk setelah aku selesai
memakai sabuk pengaman. Dia memakai sabuk pengaman, menekan klakson untuk ibu yang
masih berdiri ditempatnya sambil melambaikan tangan, dan mobilnya membawa kami
menjauh dari perkarangan rumahku.
"Sepertinya eomaku
menyukaimu," komentarku, terselip ada nada senang. Dia menengok untuk
tersenyum tipis dan kembali fokus pada jalanan.
"Begitupun
denganku." Disepanjang jalan kami menghabiskan waktu berbicara banyak hal,
aku baru tahu Laurent sudah memiliki babysitter baru.
